Sukoharjo – Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan pendidikan dan praktik fisioterapi bertaraf internasional melalui penyelenggaraan Academic Physiotherapy Conference (APC) 2026 pada Senin (1/6/2026). Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui YouTube ini mengangkat tema “Standardizing Global Excellence: Advancing Sports Physiotherapy Education and Practice through the 2026 International Competencies.”
Konferensi akademik tersebut menghadirkan pakar fisioterapi dari dalam dan luar negeri untuk mendiskusikan perkembangan terbaru terkait standar kompetensi internasional, pendidikan fisioterapi olahraga, implementasi praktik klinis berbasis kompetensi, hingga regulasi yang mendukung profesionalisme fisioterapis di tingkat global.
Kegiatan dibuka dengan pemaparan mengenai Global Competency Standards 2025 yang disampaikan oleh Prof. Maria Constantinou, PhD, PT, ISEPA dari Southern Cross University, Australia. Dalam paparannya, Prof. Maria menjelaskan pentingnya penyelarasan kompetensi fisioterapis olahraga secara global sebagai upaya meningkatkan kualitas pelayanan, keselamatan pasien, serta mobilitas profesional fisioterapis di berbagai negara. Standar kompetensi internasional diharapkan menjadi acuan bersama dalam pengembangan kurikulum pendidikan maupun praktik klinis yang adaptif terhadap kebutuhan dunia kesehatan yang terus berkembang.
Perspektif regional ASEAN kemudian dipaparkan oleh Assoc. Prof. Komsak Sinsurin, PhD, PT dari Mahidol University, Thailand, melalui materi bertajuk Academic Integration Strategy. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antarperguruan tinggi di kawasan ASEAN dalam membangun sistem pendidikan fisioterapi yang terintegrasi, memperkuat kerja sama akademik, serta meningkatkan kualitas lulusan agar mampu bersaing pada tingkat internasional.
Sesi berikutnya menghadirkan Dr. Syahrmirza Indra Lesmana, S.Ft., M.Or selaku Advisor Perhimpunan Fisioterapi Olahraga Indonesia (PFOI) yang membahas National Clinical Implementation Strategy. Materi ini mengulas strategi implementasi standar kompetensi internasional dalam praktik fisioterapi olahraga di Indonesia, termasuk tantangan, kesiapan institusi pendidikan, serta peran organisasi profesi dalam mendukung peningkatan mutu pelayanan fisioterapi.
Selain sesi pemaparan materi, konferensi juga menghadirkan Plenary Roundtable Dialogue – Q&A yang dipandu oleh Suryo Saputra Perdana, Ft., M.Sc., PT dari Universitas Muhammadiyah Surakarta. Diskusi interaktif tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdialog langsung dengan para narasumber mengenai implementasi standar kompetensi global, pengembangan kurikulum, hingga peluang kolaborasi internasional dalam bidang pendidikan dan penelitian fisioterapi.
Sebagai penutup, peserta memperoleh wawasan mengenai aspek etika olahraga melalui materi “Anti-Doping Regulations for Sport Physiotherapy” yang disampaikan oleh Marcellina Ardiyanti, S.Pd., S.M., MA dari Indonesia Anti-Doping Organization (IADO). Paparan ini menegaskan pentingnya pemahaman fisioterapis terhadap regulasi anti-doping sebagai bagian dari praktik profesional yang berintegritas, khususnya dalam pendampingan atlet pada berbagai level kompetisi.
Melalui penyelenggaraan Academic Physiotherapy Conference 2026, Program Studi Fisioterapi UMS terus memperkuat perannya sebagai institusi pendidikan yang aktif membangun jejaring akademik internasional sekaligus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang fisioterapi. Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk berbagi pengetahuan, memperluas kolaborasi global, serta mempersiapkan lulusan fisioterapi yang memiliki kompetensi sesuai standar internasional dan mampu menjawab tantangan perkembangan pelayanan kesehatan di masa depan.
Dengan menghadirkan narasumber dari berbagai institusi dan organisasi profesi, konferensi ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan pendidikan, praktik klinis, dan penelitian fisioterapi olahraga di Indonesia, sekaligus memperkuat posisi UMS sebagai salah satu perguruan tinggi yang berkomitmen dalam mewujudkan pendidikan fisioterapi berdaya saing global.
